Selasa, 10 April 2012

STUDI KASUS DALAM BK


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Setiap individu dalam hal ini adalah siswa mempunyai masalah yang berbeda-beda. Permasalahan yang dihadapi siswa juga sangat bervariasi yaitu bisa bersifat pribadi, sosial, belajar, atau karier. Konselor sekolah senantiasa diharapkan untuk mengetahui keadaan dan kondisi siswanya secara mendalam serta membantu siswa untuk mengatasi permasalahan dan hambatan dalam perkembangannya. Sebelum melakukan proses konseling, sebaiknya konselor mengetahui kondisi dan keadaan siswa. Konseling baru dapat diberikan dengan baik apabila data mengenai individu yang akan di konseling sudah diperoleh. Ada banyak metode dan pendekatan yang dapat digunakan, salah satu metode yang dapat digunakan yaitu studi kasus.
Studi kasus merupakan suatu inkuiri empiris yang menyelidiki fenomena di dalam konteks kehidupan nyata, bilamana batas-batas antara fenomena dan konteks tak tampak dengan tegas, dan dimana multisumber dimanfaatkan. (Yin, 2008:18). Metode ini merupakan integrasi dari data yang diperoleh dengan metode-metode lain. Dengan metode studi kasus ini pembimbing bisa mendapatkan tinjauan yang mendalam. Studi kasus akan mempermudah konselor sekolah untuk membantu memahami kondisi siswa seobyektif mungkin.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah pengertian studi kasus?
2.      Bagaimanakah studi kasus sebagai stategi penelitian dan perbedaan studi kasus dengan penelitian lain?
3.      Bagaimanakah studi Kasus dalam bimbingan dan konseling, tujuan dan cara-cara pelaksanaanya?
C.    Tujuan
Dengan mempelajari studi kasus ini, diharapkan kita sebagai calon konselor dapat mempelajarinya dan menambah ilmu yang nantinya berguna untuk memahami klien siswa saat melaksanakan bimbingan dan konseling di sekolah maupun di masyarakat.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Studi Kasus
Kasus Kamus Psikologi menyebutkan dua pengertian tentang Studi kasus yaitu : Studi kasus merupakan suatu penelitian (penyelidikan) intensif, mencakup semua informasi relevan terhadap seorang atau beberapa orang biasanya berkenaan dengan satu gejala psikologis tunggal. Studi kasus merupakan informasi-informasi historis atau biografis tentang seorang individu, seringkali mencakup pengalamannya dalam terapi. Terdapat istilah yang berkaitan dengan case study yaitu case history atau disebut riwayat kasus, sejarah kasus. Case history merupakan data yang terimpun yang merekonstruksikan masa lampau seorang individu, dengan tujuan agar orang dapat memahami kesulitan-kesulitannya yang sekarang serta menolongnya dalam usaha penyesuaian diri (adjustment) (Kartono dan Gulo, 2000).
Berikut ini definisi studi kasus dari beberapa pakar dalam Psikologi dan Bimbingan Konseling, yaitu :
a.       Studi kasus adalah metode pengumpulan data yang bersifat integratif dan komprehensif. Integratif artinya menggunakan berbagai teknik pendekatan dan bersifat komprehensif yaitu data yang dikumpulkan meliputi seluruh aspek pribadi individu secara lengkap (Dewa Ketut Sukardi, 1983).
b.      Studi kasus adalah suatau metode untuk menyelidiki atau mempelajari sesuatu kejadian mengenai perseorangan (riwayat hidup) (Bimo Walgito, 2004)
c.       Studi kasus adalah suatu teknik mempelajari seorang individu secara mendalam untuk membantu memperoleh penyesuaian diri yang lebih baik. (I.Djumhur, 1985).
d.      Studi kasus adalah suatu metode untuk mempelajari keadaan dan perkembangan seorang murid secara mendalam dengan tujuan membantu murid untuk mencapai penyesuaian yang lebih baik. (WS. Winkel, 1995).
Sebenarnya masih banyak lagi pengertian dari studi kasus namun dapat disimpulkan bahwa studi kasus adalah suatu studi atau analisa komprehensif dengan menggunakan berbagai teknik. Bahan dan alat mengenai gejala, ciri-ciri, karakteristik berbagai jenis masalah atau tingkah laku menyimpang, baik individu maupun kelompok.
B.     Studi Kasus Sebagai Stategi Penelitian
Studi kasus, seperti yang dirumuskan Robert K. Yin (2008;1), merupakan sebuah metode yang mengacu pada penelitian yang mempunyai unsur how dan why pada pertanyaan utama penelitiannya dan meneliti masalah-masalah kontemporer (masa kini) serta sedikitnya peluang peneliti dalam mengontrol peritiswa (kasus) yang ditelitinya.
Studi kasus sendiri, menurut Robert K.Yin dibagi kedalam tiga tipe yakni studi kasus eksplanatoris, eksploratoris dan deskriptif. Ketiga tipe ini berdasarkan kepada jenis dan tujuan dari pertanyaan penelitian.
Lebih lanjut, K. Yin Menjelaskan bahwa studi kasus memungkinkan peneliti untuk mempertahankan karakteristik holistik dan bermakna dari peristiwa-peristiwa kehidupan nyata seperti sirklus kehidupan nyata. Penjelasan ini menjadi landasan bahwa studi kasus memiliki karakteristik penelitian kualitatif dimana adanya latar alamiah. Studi kasus memiliki perbedaan dengan strategi penelitian lainnya seperti metode historis ataupun eksperimen. Adapun perbedaannya dapat dilihat pada table dibawah ini :
Perbedaan Studi Kasus dengan Metode Lainnya
Strategi
Bentuk pertanyaan penelitian
Membutuhkan kontrol terhadap peristiwa
Fokus terhadap peristiwa kontemporer
Eksperimen Survei
Bagaimana, mengapa
Ya
ya
Analisis Arsip (mis.dlm.std.ekon)
Siapa, apa, dimana, berapa banyak
Tidak
ya
Histori
Bagaimana, mengapa
Tidak
ya/tidak
Studi Kasus
Bagaimana, mengapa
Tidak
ya
Sumber: K.Yin (2008:8)



Desain Studi Kasus ada 2 :
1.      Desain Kasus Tunggal : K. Yin mengatakan bahwa rasional untuk kasus tunggal adalah bilamana desain studi kasus tunggal bisa dibenarkan dalam kondisi-kondisi sebagai berikut :
  • Kasus tersebut mengetengahkan suatu uji penting tentang teori yang penting
  • Merupakan suatu peristiwa yang langka atau unik
  • Bertujuan dengan tujuan penyingkapan
Desain kasus tunggal berdasarkan unit analisisnya dibagi kedalam dua macam, diantaranya :
  • Desain studi kasus tunggal holistik : yaitu jika hanya dalam satu kasus yang diteliti hanya menganalisis sebuah persoalan pokok dimana tidak bisa diindentifikasikan kedalam sub-sub lainnya.
  • Desain studi kasus tunggal terjalin : menggunakan unit multi analisis
2.      Desain Multikasus : Desain multikasus berdasarkan unit analisisnya dibagi kedalam dua macam, diantaranya :
  • Desain Multikasus Holistik : yaitu terdiri dari beberapa kasus namun hanya satu hal yang diteliti
  • Desain Multikasus Terjalin : yaitu terdiri dari beberapa kasus dan beberapa unit analisis
C.    Studi Kasus dalam Bimbingan dan Konseling
a)      Ciri-ciri Studi Kasus
Studi kasus memiliki ciri-ciri:
Ø  Mengumpulkan data yang lengkap. Data yang lengkap sangat menentukan identifikasi dan analisis masalah. Apabila data tidak lengkap dan terjadi kesalahan dalam identifikasi dan analisis masalah maka besar kemungkinan terjadi salah penanganan (treatment) dan bahkan terjadi mal-praktik.
Ø  Bersifat rahasia. Sesuai dengan kode etik BK, asas kerahasiaan juga berlaku dalam studi kasus. Asas kerahasiaan sangat penting untuk menjaga kepercayaan siswa. Dalam hal ini konselor hendaknya hanya memberitahu pihak-pihak yang perlu mengetahui keadaan siswa yang sebenarnya.
Ø  Dilakukan secara terus-menerus. Studi kasus merupakan proses memahami perkembangan siswa, maka perlu dilakukan pemahaman secara terus-menerus sehingga terbentuk gambaran individu yang objektif dalam berbagai segi kehidupan individu yang berpengaruh pada masalah yang dihadapinya.
Ø  Pengumpulan data dilakukan secara ilmiah. Studi kasus harus bisa dipertanggung jawabkan secara rasional dan objektif. Maka pengumpulan data juga harus dilakukan secara ilmiah dengan mengacu kaidah-kaidah yang rasional dan dapat dipertanggung jawabkan kebenaran dan validitasnya.
Ø  Data yang diperoleh dari berbagai pihak. Data yang dikumpulkan dalam studi kasus haruslah relevan dengan permasalahan yang dialami siswa.
b)      Tujuan Pelaksanaan Studi Kasus bagi Konselor
Konselor melakukan studi kasus bertujuan untuk (1) dapat mengenal diri pribadi klien yang dianggap mempunyai masalah secara luas dan mendalam sehingga mampu memberikan treatment secara tepat. (2) Konselor dapat memahami dan menetapkan faktor-faktor penyebab permasalahan yang dihadapi klien.(3) Konselor dapat menentukan jenis layanan yang tepat sesuai dengan permasalahan klien. (4) Konselor dapat membantu siswa untuk mencapai penyesuaian yang lebih baik. (5) Siswa dapat menghadapi permasalahan dan hambatan hidupnya, dan tercipta keselarasan dan kebahagiaan bagi siswa tersebut.
c)      Data yang Dikumpulkan Konselor dalam Studi Kasus
Studi kasus merupakan teknik yang digunakan untuk memperoleh pemahaman diri klien yang dijadikan sebagai kasus. Dalam pelaksanaan studi kasus konselor harus mencari data yang berkaitan dengan diri klien. Data yang dikumpulkan dalam studi kasus antara lain :
ü  Data identitas (data pengenal)
ü  Tanda-tanda atau gejala yang nampak
ü  Data sekitar klien antara lain latar belakang keluarga, latar belakang jasmani dan kesehatan, data mengenai segi pendidikannya, social behavior dan minatnya, dan tes data.
ü  Langkah-langkah yang akan diambil dalam pemberian konseling.
d)      Cara Pelaksanaan Studi Kasus
Pelaksanaan studi kasus oleh konselor harus berdasar pada prosedur atau langkah-langkah yang ada. Secara garis besar langkah-langkah studi kasus sebagai berikut:
1.      Instrumen atau Metode Pengumpulan Data dalam Studi Kasus Terdapat banyak metode yang dapat dipakai dalam mengumpulkan data untuk kepentingan identifikasi masalah siswa, yaitu : kartu pribadi, angket, wawancara, kunjungan rumah(Home Visit), buku rapor, testing, rating scale, autoboigrafi, sosiometri, studi dokumentasi dan daftar cek masalah (DCM)
Dalam penggunaan alat-alat tersebut ditentukan prioritas teknik yang dapat dipakai secara efektif dan efisien.
2.      Data yang dikumpulkan dalam studi kasus diantaranya : Identitas diri, Latar belakang keluarga, Lingkungan hidup (sosial ekonomi), Riwayat pertumbuhan dan perkembangan, Riwayat kesehatan, Testing dalam berbagai bidang, Riwayat pendidikan sekolah, Kesusilaan dari pihak keyakinan hidup, Riwayat pelanggaran hidup, Pergaulan dengan teman-teman.
Pelaksanaan Studi Kasus
a.              Perencanaan : dalam perencanaan terdapat langkah-langkah sebagai berikut, yaitu: Mengenali gejala. Pertama-tama mengamati adanya suatu gejala, gejala itu mungkin ditemukan atau diperoleh dengan beberapa cara yaitu guru pembimbing menemui sendiri gejala pada siswa yang memiliki masalah, guru mata pelajaran memberikan informasi, adanya siswa yang bermasalah kepada guru pembimbing, wali kelas meminta bantuan guru pembimbing untuk menangani seorang siswa yang bermasalah berdasarkan informasi yang diterimanya dari pihak lain, seperti siswa, para guru, ataupun pihak tata usaha.
b.             Membuat deskripsi kasus. Setelah gejala itu dipahami oleh guru pembimbing, kemudian dibuatkan suatu deskripsi kasusnya secara objektif, sederhana, tetapi cukup jelas.
c.              Setelah deskripsinya dibuat, dipelajari lebih lanjut aspek ataupun bidang-bidang masalah yang mungkin dapat ditemukan dalam deskripsi itu. Kemudian ditentukan jenis masalahnya, apakah menyangkut masalah pribadi, sosial, belajar atau karir.
d.             Jenis masalah yang telah dikelompokkan itu dijabarkan dengan cara mengembnagkan ide-ide atau konsep-konsep menjadi lebih rinci, agar lebih mudah memahami permasalahannya.
e.              Adanya jabaran masalah yang lebih terinci dapat membantu guru pembimbing untuk membuat perkiraan kemungkianan sumber penyebab masalah.
f.              Perkiraan kemungkinaan sumber penyebab membantu mengetahui jenis informasi yang dikumpulkan, sumber informasi yang perlu dikumpulkan, dan teknik atau alat yang digunakan dalam mengumpulkan informasi.
g.             Pengumpulan data. Terdapat beberapa teknik dalam pengumpulan data, tetapi yang lebih sering digunakan dalam studi kasus adalah observasi, wawancara, dan analisis dokumentasi. Setelah data terkumpul konselor dapat mulai mengorgansasi dan mengklasifikasi data menjadi bagian-bagian yang dapat dikelola.
h.             Penggunaan dan pengolahan data. Penggunaan dan pengolahan data merupakan usaha pengolahan data untuk merangkum, menggolongkan, dan menghubungkan data yang diperoleh dalam tahap pengumpulan data. Dengan demikian dapat menunjukkan keseluruhan gambaran tentang diri anak, rumusan ini bersifat ringkas dan padat.
i.               Sintesa dan interpretasi data Setelah mengolah data selanjutnya data studi kasus diinterpretasikan dengan case conference antara petugas yang melakukan studi kasus, dalam case conference terlibat beberapa petugas khusus yang mempelajari setipa kasus dari individu yang bermasalah. Rumusan ini dilakukan melalui pengambilan atau pengambilan kesimpulan yang logis.
j.               Membuat perencanaan pelaksanaan pertolongan (treatment) Merupakan langkah yang ditempuh untuk menetapkan teknik atau bantuan yang diberikan kepada siswa yang bermasalah serta memprediksi kemungkinan yang akan timbul oleh siswa sehubungan dengan masalah yang sedang dialami. Berdasarkan hasil case conference disusun suatu rekomendasi yang berwujud saran-saran, treatment (perlakuan) yang perlu dilakukan dan selanjutnya secara terus menerus diikuti dan dicatat setiap perubahan atau perkembangan yang terjadi pada siswa yang bersangkutan.
k.             Evaluasi dan tindaklanjut (follow up) Kegiatan ini dilakukan setelah melakukan treatment atau membuat perencanaan pelaksanaan pertolongan. Untuk tindak lanjut bisa dilakukan oleh pengajar sendiri, guru BK, ataupun dirujuk dan di alihtangankan kepada pihak lain yang lebih berkompeten maupun dari oarang tua siswa itu sendiri.



BAB III
KESIMPULAN

Studi kasus, seperti yang dirumuskan Robert K. Yin (2008;1), merupakan sebuah metode yang mengacu pada penelitian yang mempunyai unsur how dan why pada pertanyaan utama penelitiannya dan meneliti masalah-masalah kontemporer (masa kini) serta sedikitnya peluang peneliti dalam mengontrol peritiswa (kasus) yang ditelitinya.
Konselor melakukan studi kasus bertujuan untuk (1) dapat mengenal diri pribadi klien yang dianggap mempunyai masalah secara luas dan mendalam sehingga mampu memberikan treatment secara tepat. (2) Konselor dapat memahami dan menetapkan faktor-faktor penyebab permasalahan yang dihadapi klien.(3) Konselor dapat menentukan jenis layanan yang tepat sesuai dengan permasalahan klien. (4) Konselor dapat membantu siswa untuk mencapai penyesuaian yang lebih baik. (5) Siswa dapat menghadapi permasalahan dan hambatan hidupnya, dan tercipta keselarasan dan kebahagiaan bagi siswa tersebut. Studi kasus merupakan teknik yang digunakan untuk memperoleh pemahaman diri klien yang dijadikan sebagai kasus. Dalam pelaksanaan studi kasus konselor harus mencari data yang berkaitan dengan diri klien





DAFTAR PUSTAKA

Yin, Robert K. 2008. Studi Kasus : Desain dan Metode. Jakarta : Rajawali Pers.
Prayitno, dan ErmanAmti. 2004. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta
Agung Nugroho, Obed. 2008. “Studi Kasus dalam Bimbingan dan Konseling”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar