Selasa, 17 April 2012

VERBATIM KONSELING INDIVIDUAL-Client Centered


VERBATIM  KONSELING INDIVIDUAL
Client Centered



Di bawah ini disajikan kutipan dari suatu wawancara yang diselenggarakan menurut pendekatan Rogers. Konseli adalah seorang siswa kelas XII SMA yang memiliki beban masalah keluarga yang berdampak pada sekolahnya. Konseli menghadap konselor sekolah setelah sebelumnya membuat janji.        
Konseli            : “Assalamu’alaikum Bu....”
Konselor         : “Walaikumsalam......”
“Eh..Reni,, mari silakan masuk Nak.....” “Ayo silakan duduk”
Konseli            : “iya Bu, terima kasih”. "Maaf Bu, saya agak terlambat datang. Tadi saya sehabis mata pelajaran olahraga langsung ganti baju dan makan siang terlebih dahulu, soalnya tadi pagi belum sempat sarapan Bu...jadi baru bisa datang"
Konselor         : "iya, ibu mengerti. Tidak apa-apa. Kalau perut tidak diisi terlebih dahulu, nanti malah tidak bisa berkonsentrasi saat belajar bukan?"
Konseli            : "Benar Bu, Terima kasih pengertiannya. Wah, pernafasan saya belurn tenang. Tadi buru-buru sih Bu, dari kantin langsung lari kesini."
Konselor         : "Reni ingin beristirahat sebentar? Ke sini tadi agak tergesa-gesa bukan?”   “Ibu ambilkan minum terlebih dahulu ya...”
Konseli            : "Ya Buk terimakasih.." (Sementara itu ia mengatur pakaian dan cara duduk).
                                    (konselor menunggu Reni selesai minum)
Konselor         : "Nah Reni, Ketika Kita bertemu tadi pagi, Reni hanya mengatakan ingin bertemu Ibu dan  Reni belum  mendapat kesempatan untuk berbicara lebih banyak kepada ibu. Coba sekarang ceritakan kepada Ibu, barang kali ada sesuatu yang ingin Reni sampaikan"
Konseli            : "Mulai dari mana ya Buk?"(terlihat mulai diam dan menunduk tidak berani menatap konselor)
Konselor         : "nampaknya Reni menyimpan perasaan yang kurang mengenakkan?" “Apakah benar seperti itu?”
Konseli            : “Iya Buk...” (kemudian diam.....)
Konselor         : “Ibu memahami perasaanmu,,,tetapi apakah bisa kita bicarakan bersama?”
Konseli            : “Saya inginnya seperti itu Buk, tapi.....” (diam dan menunduk)
Konselor         : “kalau begitu, Ibu ingin mendengar apa yang membuat perasaan Ok tidak enak itu”
Konseli            : “begini Buk,,sepertinya saya ingin berhenti saja dari sekolah, saya......” (Reni diam dan menangis)
Konselor         : “menangis saja tidak apa-apa” (sampil memberikan Tissue). “lalu bagaimana?”
Konseli            : “orang tua saya sudah meninggal Bu, saya tinggal bersama kakak perempuan saya.”
Konselor         : “Bisakah Reni menjelaskan lebih jauh mengenai kebingungan yang dirasakan Reni?”
Konseli            : “ Saya sangat bingung Buk, kakak saya ikut suami, kakak tidak punya penghasilan apa-apa. Suami kakak saya hanya seorang buruh bangunan, penghasilannyapun pas-pasan sekali. Saya kan butuh uang saku Buk, sedangkan kakak tidak selalu punya uang. Ya sudahlah Buk, akhirnya saya terpaksa tidak masuk sekolah....”
Konselor         : “Bukankah Reni mendapat bantuan dari sekolah?”
Konseli            : “uangnya saya gunakan untuk membayar iuran bulanan dan yang lain untuk membeli LKS dan perlengkapan sekolah lain Buk...”
Konselor         : “selanjutnya apa yang akanReni lakukan dalam hal ini?”
Konseli            : “saya....saya masih bingung Buk, saya bingung apa yang harus saya lakukan dan apa yang  terbaik untuk saya...mungkin yang terbaik saya harus keluar saja Buk, agar tidak membebani kakak saya terus.”
Konselor         : “Apakah dengan cara Reni ingin keluar dari sekolah,Reni sudah merasa masalahnya teratasi?”
Konseli            : “Tidak juga sih Buk...saya masih terus memikirkanya...”
Konselor         : “Nah, Reni nampaknya sudah memahami masalahnya sendiri yaitu bagaimana untuk bisa menghilangkan rasa membebani dan merepotkan kakak.”
Konseli            : “Ya Buk....tapi perasaan itu selalu membuat saya bingung sepertinya sulit sekali hilang, jadi merasa serba salah...”
Konselor         : “ Reni sudah kelas XII bukan?”
Konseli            : “benar Buk...”
Konselor         : “Reni sekolah disini tinggal beberapa bulan lagi, sebentar lagi lulus, sedangkan saat ini Reni mengalami perasaan tertekan dalam keluarga, bagaimana ini?”
Konseli            : “Ya Buk, Cita-cita saya, saya ingin lulus dengan hasil yang baik, dan saya sudah berjanji untuk tidak membuat kakak saya kecewa. Karena selama ini, kakaklah yang sudah merawat dan membantu saya...bahkan kakak sangat menyayangi saya.”
Konselor         : “Bagus sekali tekad Reni. Ibu mendukung pendapatmu...Lalu apakah Reni mempunyai cara untuk mengatasi masalah yang Reni alami ini?”
Konseli            : “Saya masih bingung Buk,,,saya takut kakak saya kecewa kepada saya....apalagi jika kakak tahu akhir-akhir ini nilai ulangan saya turun karena perasaan yang membebani saya ini.”
Konselor         : “ketakutan seperti itu harus segera Reni hilangkan demi kesuksesan Reni meraih cita-cita yang sudah Reni inginkan selama ini. Ibu yakin Reni mampu mengatasinya...”
Konseli            : “saya masih terus berfikir Buk, bagaimana cara menghilangkan perasaan yang selalu membebani saya setiap kali saya melihat kakak saya”
Konselor         : “Apakah selama ini Reni belum pernah berbicara dengan kakak, apakah benar kakak kamu terbebani dengan keberadaan Reni dalam keluarganya?”
Konseli            : “Wahhh...haruskah saya bicarakan Buk? Saya takut....”
Konselor         : “Reni ingin perasaan tidak enak itu hilang bukan?”
Konseli            : “Iya buk....”
Konselor         : “kalau Reni tidak mengungkapkannya, jangan-jangan nanti itu hanya perasaan Reni saja dan kakak Reni tidak pernah merasa terbebani”
Konseli            : “Benar juga sih Buk, harusnya saya diskusikan dengan kakak, agar saya tidak kebingungan sendiri seperti ini”. “nanti kalau sudah sampai rumah, saya akan berbicara dengan kakak saya”
Konselor         : “Ya bagus. Memang seharusnya seperti itu. “ “Kira-kira apa yang akan Reni rencanan sebagai tindak lanjut dari pembicaraan Reni dengan kakak?”
Konseli            : “kalau memang nanti pembicaraan dengan kakak tidak mendapatkan jalan keluar, saya akan membicarakan masalah ini kepada paman yang tinggalnya di seberang desa tempat saya tinggal. Dari dulu Paman ingin menyekolahkan saya, karena beliau tidak memiliki anak. Tetapi kakak tidak mengijinkannya.
Koselor           : “Ya..ibu akan mendukung usaha yang Reni lakukan.”
                                     “Sebelum kita menutup pembicaraan, bagaimana perasaan Reni sekarang?”
Konseli            : “saya sudah merasa lega sekali Bu, perasaan yang membebani saya sudah berkurang. Dan sekarang saya sudah paham apa yang harus saya lakukan.”
Konselor         : “Apakah masih ada yang ingin Reni sampaikan kepada Ibi?”
Konseli            : “sudah bu, hanya itu masalah yang membebani saya.”
Konselor         : “kalau begitu, kita tutup pembicaraan ini dan Ibu berterimakasih sekali karena kesediaan Reni menemui Ibu.”
Konseli            : “Iya Buk, kalau ada apa-apa lagi bolehkah saya menemui Ibu lagi?”
Konselior        : “silakan Reni datang kapan saja, Ibu siap membantu.”
Konseli            : “terimakasih Bu, saya pamit dulu.”
Konselor         : “iya silakan”
Konseli            : “Assalamu’alaikum”
Konselor         : “Walaikumsalam”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar