Selasa, 22 Mei 2012

Proses Konseling Trait-Factor


CONTOH VERBATIM
PROSES KONSELING TRAIT-FACTOR

Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa langkah-langkah konseling Trait-Factor yang dikemukakan oleh Williamson ada 6 langkah pokok yaitu : Analisis, Sintesis, Diagnosis, Prognosis, Treatment dan Follow up.
Karena langkah-langkah tersebut terkesan to the point, sedangkan masyarakat kita kurang begitu suka dengan hal-hal yang to the point, maka oleh Prof.Dr.Soeharto M,Pd. Dosen Prodi Bimbingan dan Konseling, Universitas SebelasMaret langkah-langkah tersebut diberi ‘tambahan’ agar lebih luwes untuk digunakan di Masyarakat kita ini, yaitu membaginya menjadi 3 bagian besar dan beberapa sub di dalamnya, berikut langkah-langkah Konseling Trait-Factor yang sudah ‘dimodifikasi’ :

11.      PENDAHULUAN
a.       Menyambut kehadiran klien
b.      Menciptakan hubungan yang baik
c.       Mendengarkan keluhan klien
d.      Mempersetujukan tujuan
22.      INTI
e.       Mengumpulkan informasi (analisis)
f.        Memadukan berbagai informasi (sintesis)
g.      Merumuskan/menetapkan masalah dan penyebabnya (diagnosis)
h.      Mencari beberapa kemungkinan jalan keluar (prognosis)
i.        Memilih jalan keluar yang paling tepat
j.        Merencanakan pelaksanaan jalan keluar
k.      Memberi pertolongan menuju jalan keluar (treatment) untuk dilakukan di dalam dan di luar
l.        Mengevaluasi hasil pemberian pertolongan dan melakukan tindak lanjut (follow up)
33.      PENUTUP
m.    Membuat kesimpulan
n.      Menutup pertemuan



Dari langkah-langkah diatas, maka saya mencoba membuat verbatim konseling Trait-Factor (sebenarnya ini saya ambil dari naskah drama yang saya buat, agar lebih memahami latar belakang masalahnya, silakan anda lihat artikel saya pada label Hiburan Semata dengan judul SOSIODRAMA “BKKBN”).
Areta               : “selamat sore Bu Mar…” (sambil masih menangis)
Bu Marwah     : “Areta? Mari-mari masuk keruang ibu saja…” “silakan duduk”
Areta               : “terimakasih buk. Apakah saya mengganggu waktu Ibu? Kalau iya saya bisa datang besok saja buk”
Bu Marwah     : “ow…tidak apa-apa Reta, ibu tidak sibuk kok. Areta ada masalah sehingga datang menemui ibu?”
Areta               : “Iya Buk….”
Bu Marwah     : baiklah, disini kita akan berbincang-bincang yang berkaitan dengan masalah yang Areta hadapi. Tentu saja tujuannya agar masalah areta teratasi, bagaimana setuju?”
Areta               : “setuju buk”
Bu Marwah     : “nah…untuk memahami  masalah Areta, ibu perlu beberapa keterangan dari Areta. Tidak keberatan bukan? Ibu akan menjaga kerahasiaan tentunya.
Areta               : “iya Buk….baik, saya setuju.”
Bu Marwah     : “Coba ceritakan kepada Ibu, apa yang areta pikirkan, ceritakan seluruhnya apa adanya. Sekali lagi percayalah saya jamin tidak ada orang lain yang tahu kecuali saya.
Areta               : “saya takut sekali buk kalau tiba-tiba ortu meninggal”
Bu Marwah     : “ow…begitu…lalu..”
Areta               : “ saya nggak siap Buk, saya selalu membangkang apa kata ortu sekarang saya sadar, saya merasa bersalah. ”
Bu Marwah     : “sesuai keterangan Reta, benar bahwa masalah ini perlu diatasi. Reta ingin lepas dari masalah bukan?”
Areta               : “benar buk…saya sangat ingin masalah saya teratasi.”
Bu Marwah     : “tadi Reta mengatakan takut ortunya tiba-tiba meninggal, kemudian mengungkapkan juga penyesalan. Bisa dijelaskan lebih banyak lagi?
Areta               : “saya tadi mendengar percakapan antara Kharisma dan Rendy Bu..”
Bu Marwah     : “mendengarkan?”
Areta               : “iya buk, waktu di depan rumah Reny. Ternyata orang tua Rendy udah meninggal. Rendy harusnya sudah kelas XII tapi karena sempat down karena kecelakaan orang tuanya, Rendy harus berhenti sekolah sementara dan mendapatkan bantuan dari psikologi untuk mengatasi depresinya.”
Bu Marwah     : “ya…lalu?”
Areta               : “nggak nyangka Bu…Rendy yang dikelas suka membantu dan ceria pernah jadi anak yang nakal dan bandel, trus depresi…trus sekarang sudah penuh harapan untuk meraih masa depannya lagi.”
Bu Marwah     : “jadi Reta sedih mendengar pengalaman Rendy?”
Areta               : “iya Buk, yang saya dengar Rendy menyesal dan sadar setelah orang tuanya meninggal.makanya dia depresi. Saya jadi takut Buk, kalau saya diposisi Rendy, saya belum tentu bisa bangkit lagi Buk….”
Bu Marwah     : “kalau saya tidak salah, apakah areta merasa menyesal?”
Areta               : “iya Buk, saya menyesal selalu menyia-nyiakan kepercayaan dari orang tua saya.  Tambah lagi tadi ternyata Kharisma sungguh-sungguh bersekolah karena tidak ingin mengecewakan orang-orang yang dia sayangi. Saya merasa kisah dua orang itu berbanding terbalik sekali dengan saya“
Bu Marwah     : “dari keterangan yang telah Areta sampaikan, yang Areta hadapi saat ini adalah perasaan menyesaal karena sudah mengecewakan orang tua Areta. Bagaimana, benar begitu?”
Areta               : “benar Buk..”
Bu Marwah     : “Baiklah sekarang sudah sama-sama kita ketahui bahwa Reta menjadi seperti ini karena perasaan-perasaan bersalah itu. Ya inilah masalahnya. Memang wajar jika jadinya Areta menangis seperti ini, makanya perlu dicari pemecahan masalahnya”
Areta               : “iya Buk…”
Bu Marwah     : “Reta, mari kita pikirkan bersama, bagaimana caranya memecahkan masalah ini, agar Reta dapat keluar dari perasaan-perasaan mengganggu ini.”
                        “Coba menurut Areta, kira-kira apa yang harus dilakukan?”
Areta               : “Saya harus meminta maaf kepada orang tua saya Buk,”
Bu Marwah     : “bagus…ada lagi?”
Areta               : “saya juga mesti meminta maaf kepada teman-teman yang sudah saya sakiti hatinya buk.”
Bu Marwah     : “baiklah, ada cara lain lagi? Misalnya Reta mulai bersungguh-sungguh dalam bersekolah, tidak bolos lagi, ikut les, belajar kelompok, bagaimana menurut Reta?”
Areta               : “benar Buk, itu juga bisa. Saya harus bisa mengejar cita-cita saya untuk belajar bisnis.”
Bu Marwah     : “dari beberapa cara itu, mungkin ada yang paling efektif, kira-kira yang cara mana yang jitu untuk dilakukan.”
Areta               : “saya akan meminta maaf terlebih dahulu Buk”
Bu Marwah     : “Baik, saya sependapat dengan pilihan Reta.”
Areta               : “iya buk, dengan meminta maaf kepada orang tua saya terlebih dahulu, dan meminta maaf kepada teman-teman akan membuat perasaan saya lebih tenang. Kalau pikiran saya tenang, saya akan melanjutkan rencana selanjutnya. Pasti saya bisa buk…”
Bu Marwah     : “sekarang menurut Areta, bagaimana melaksanakan rencana Areta tersebut?”
Areta               : “nanti setelah sampai rumah, saat santai saya akan berbincang-bincang dengan oarng tua saya dan meminta maaf Buk, berkumpul merupakan hal yang semenjak SMA tidak pernah saya lakukan. Kalau meminta maaf kepada teman-teman, besok saja buk di sekolah”
Bu Marwah     : “ya sesuai rencana Areta, memang perlu dilakukan, agar Reta tidak dihantui rasa bersalah lagi. Masa lalu jadikan pengalaman saja, sekarang masa depan Reta yang panjang harus Reta jalani dengan baik.”
Areta               : “iya Buk…saya juga akan mengajak teman-teman saya untuk mulai bersungguh-sungguh, tapi mungkin teman-teman saya juga sudah menyadarinya Buk.”
Bu Marwah     : “nah…bagaimana perasaan Reta sekarang?”
Areta               : “sudah lega Bu, sekarang saya tahu apa yang harus saya kerjakan.”
Bu Marwah     : “kira-kira bagaimana jika rencana-rencana tadi dilakukan?”
Areta               : “tentunya saya juga akan mempunyai teman banyak bu, bukan Cuma musuh saja seperti selama ini. Dan juga orang tua saya sudah menaruh harapan besar pada saya, pasti mereka senang jika saya berubah.”
Bu Marwah     : “Areta, kita sudah membicarakan banyak hal mengenai tentang penyesalah Reta dan juga keinginan Reta untuk berubah. Kemudia Reta akan melakukan apa saja tadi?”
Areta               : “meminta maaf kepada orang-orang disekitar saya Buk agar perasaan saya tenang, setelah itu saya akan focus meraih cita-cita saya. Saya tidak ingin menngecewakan kerja keras orang tua saya.”
Bu Marwah     : “Ya…ternyata sudah banyak sekali ya?  Kira-kira bagaimana menurut Reta, pertemuan kali ini dicukupkan atau dilanjutkan lain waktu?
Areta               : “saya rasa cukup dulu Bu, sudah menjelang sore, saya juga akan segera bertemu dengan orang tua saya. Maaf ya Bu, sudah mengganggu waktu Ibu.”
Bu Marwah     : “ tidak apa-apa Reta, ibu senang bisa membantu..”
Areta               : “saya permisi Buk, selamat sore”
Bu Marwah     : “iya Reta, hati-hati di jalan.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar