Senin, 11 Juni 2012

MODEL KONSELING REALITY atau REALITAS


Sebenarnya ini adalah materi pengantar untuk MATA KULIAH PRAKTIKUM KONSELING INDIVIDUAL yang diampu oleh Dr. Sutarno,M.Pd. yang merupakan salah satu dari lima pengampu mata kuliah praktikum konseling. Beliau adalah dosen Prodi Bimbingan dan Konseling, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

MODEL KONSELING “REALITY (REALITAS)”
(Ringkasan bab 22, terapi oleh John Brickel & robert Wubbolding, dalam Stephen Palmer (Ed), 2010)

A.   PENGANTAR
Konseling realitas merupakan model konseling yang termasuk kelompok konseling cognitive-behavioral (perilaku-kognitif). Fokus terapi konseling realitas adalah problema kehidupan yang dirasakan oleh klien saat ini, dan dilaksanakan melalui interaksi aktif antara konselor dan klien. Dalam hal ini konselor mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan klien memberi jawaban sebagai respons terhadap pertanyaan konselor. Berkenaan dengan hal tersebut maka keterampilan bertanya merupakan keterampilan yang harus dikuasai oleh konselor realitas.
Tokoh utama model konseling realitas adalah seorang psikiater, yaitu Dr.William Glaser dengan dasar teorinya adalah “teori pilihan” untuk memenuhu atau memuaskan kebutuhan dasar manusia yang bersifat universal secara bertanggungjawab. Teori ini meupakan pengembangan dari “teori Pengendalian”. Ide dasarnya adalah bahwa terlepas dari apa yang telah terjadi pada manusia, apa yang telah dikerjakan oleh manusia, dan bagaimana kebutuhan-kebutuhan manusia tidak terpenuhi atau dilanggar, manusia mampu mengevaluasi realitas terkini dan kemudian memilih perilaku untuk memenuhi kebutuhan secara efektif pada masa kini dan masa yang akan datang (manusia dapat memudarkan pengalaman masa lalu, dan kemudian memfokuskan pada pemenuhan kebutuhan masa kini dengan perilaku yang bertanggungjawab).
B.   TEORI DAN KONSELING DASAR
Teori dasar konseling realitas adalah “teori pilihan” yang menjelaskan bahwa manusia berfungsi secara individu, dan juga berfungsi secara sosial (kelompok atau masyarakat) dengan pilihan perilaku efektif yang bertanggungjawab.
Perilaku manusia termotivasi oleh karena faktor internal dan terpilih, yaitu bahwa perilaku manusia termotivasi oleh kebutuhan manusia yang bersifat universal dan perlu pemenuhan dengan pilihan perilaku efektif yang bertanggung-jawab. Perilaku ada disini dan saat ini---here and now (realitas terkini).
Lima Prinsip Utama Teori Pilihan :
a.    Kebutuhan Dasar Manusia
Setiap manusia memiliki kebutuhan dasar yang bersifat universal, yaitu kebutuhan dasar : (1) kelangsungan hidup atau pemeliharaan diri---kesehatan dan reproduksi, (2) cinta dan kepemilikan---termasuk relasi/keterhubungan dengan orang lain, (3) Harga diri atau martabat atau kekuatan/kekuasaan, (4) kebebasan/ kemerdekaan membuat pilihan, dan (5) kesenangan, kegembiraan, atau kebahagiaan.
Kelima kebutuhan dasar tersebut bukan merupakan hierarki dan kebutuhan dasar saat ini yang belum terpenuhi merupakan problema (konflik) yang perlu dipenuhi melalui pilihan perilaku (prioritas) dengan cara yang spesifik.
b.    Dunia Berkualitas
Manusia dalam upaya memenuhi kebutuhan dasar yang belum terpenuhi saat ini (problema/konflik) dengan pilihan perilaku yang spesifik dan unik. Hal in terkait dengan realitas bahwa pada/dalam diri manusia terdapat hasrat-hasrat atau keinginan-keinginan spesifik dan unik untuk memenuhi kebutuhan sebagai “album foto batin” yang berisi gambaran atau simbol-simbol orang, tempat, benda, keyakinan, nilai dan ide yang penting atau spesial dan memiliki kualitas bagi manusia dan dapat dipilih—disebut sebagai dunia berkualitas.
c.     Frustasi
Perbedaan antara kebutuhan dan keyakinan yang dirasakan menimbulkan frustasi yang mendorong perilaku yang spesifik dan unik untuk mengatasinya. Perilaku spesifik dan unik tersebut merupakan upaya/usaha terbaik untuk menutup celah antara kebutuhan yang diinginkan dan kenyataan yang dirasakan sebagai totalitas fisiologi, pikiran, perasaan dan tindakan.
d.    Perilaku Total
Totalitas yang tak terpisahkan antara fisiologi, pikiran, perasaan dan tindakan/perbuatan merupakan perilaku total manusia. “ibarat mobil bagian depan mewakili pikiran dan tindakan, sedang bagian belakangnya mewakili fisiologi dan perasaan.” Dalam proses bertindak/berperilaku kendali ada pada pikiran dan tindakan. Sedangkan fisiologis dan perasaan secara otomatis akan mengikuti. Perubahan pikiran dan tindakan disesuaikan dengan kenyataan yang dihadapi oleh manusia dalam upaya memenuhi kebutuhan saat ini dan disini---rencana tindakan yang realistis melalui pengubahan pikiran dan tindakan agar perilakunya efektif.
e.    Persepsi dan “Realitas Terkini”
Realitas terkini merupakan persepsi manusia/klien terhadap diri sendiri dan lingkungannya. Terkait dengan hal tersebut maka merupakan hal yang penting dalam konseling realitas adalah konselor membantu klien untuk membentuk realitas terkini dengan cara : (1) memahami realitas terkini klien dan membantu mengevaluasinya, kemudian (2) menemukan pilihan perilaku yang realistis yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan secara lebih efektif.
Namun demikian konseling realitas tidak mengabaikan pengalaman masa lali klien. Memiliki informasi riwayat masa lalu klien menjadikan konselor memahami luas, dalam dan jangka waktu problema yang dihadapi oleh klien, serta ketika klien mungkin mengalami kebahagiaan atau perilaku yang lebih efektif, sebagai dasar membantu pemecahan problema saat ini dan disini.

C.   STRATEGI KONSELING
Ada dua strategi konseling realitas, yaitu membangun relasi atau lingkungan konseling dan prosedur WDEP (Want, Doing and Direction, Evaluation, Planning) sebagai suatu sistem yang fleksibel pelaksanaannya.
a.    Want (keinginan) : langkah mengeksplorasi keinginan yang sebenarnya dari klien---ingat pada umumnya manusia membicarakan hal-hal yang tidak diinginkan---. Konselor memberikan kesempatan kepada klien untuk mengeksplorasi tentang keinginan yang sebenarnya dari dengan bertanya (mengajukan pertanyaan) bidang-bidang khusus yang relevan dengan problema atau konfliknya : misalnya teman, pasangan, pekerjaan, karir, kehidupan spiritual, hubungan dengan atasan dan bawahan, dan tentang komitmennya untuk memenuhi keinginan itu.
b.    Doing and Direction(melakukan dengan terarah) : langkah dimana klien diharapkan mendeskripsikan perilaku secara menyeluruh berkenaan dengan 4 komponen perilaku—pikiran, tindakan, perasaan dan fisiologi yang terkaait dengan hal yang bersifat umum dan hal bersifat khusus. Konselor memberi pertanyaan tentang apa yang dipikirkan, dirasakan, dilakukan, dan keadaan fisik yang dialami untuk memahami perilaku klien secara menyeluruh dan kesadarannya terhadap perilakunya itu.
c.     Evaluation (Evaluasi) : evaluasi diri klien—merupakan inti terapi realitas. Klien di dorong untuk melakukan evaluasi terhadap perilaku yang telah dilakukan terkait dengan efektifitasnyadalam memenuhi kebutuhan atau keinginan—membantu atau bahkan menyulitkan, ketepatan dan kemampuannya, arah dan keterarahannya, persepsinya, dan komitmennya dalam memenuhi keinginan serta pengaruh terhadap dirinya. Pertanyaan tentang hal-hal yang bersifat evaluasi “diri” disampaikan dengan empatik, kepedulian, dan penuh perhatian positif.
d.    Planning (rencana) : klien membuat rencana tindakan sebagai perilaku total dengan bantuan konselor. Dalam membantu klien membuat rencana tindakan, konselor mendasarkan pada kriteria tentang rencana yang efektif, yaitu : (1) dirumuskan oleh klien sendiri, (2) realistis atau dapat dicapai, (3) ditindak lanjuti dengan segera, (4) berada di bawah kontrol klien, tidak bergantung pada orang lain--- tindakan bertanggung jawab.

D.   LANGKAH-LANGKAH KONSELING
1.    Membangun keterlibatan klien dalam proses konseling : konselor membina hubungan dan keterlibatan emosi serta kerjasama klien, dengan cara penyambutan klien, penciptaan hubungan baik, strukturing, mendengarkan keluhan klien, dan mempersetujukan tujuan.
2.    Identifikasi perilaku/tindakan kekinian dan ke-disini-an klien : pengungkapan perilaku/tindakan klien pada saat akhir-akhir ini, dengan cara mengungkapkan perilaku saat ini, keinginan, kebutuhan, dan persepsinya---apa yang dilakukan, bagaimana, waktu/kapan melakukannya dan perasaan terkait dengan perilakunya tsb.
3.    Evaluasi : konselor mendorong klien menilai kerealistikan perilaku/tindakan dengan prinsip reality, right, responsibility dengan cara klarifikasi perilaku sekarang, konfrontasi dengan tujuan hidup dalam hubungannya dengan standar etika, hukum, peraturan sekolah , adat, norma sosial, keluarga, agama.
4.    Pengembangan perencanaan perilaku yang realistik : Konselor mendorong klien untuk menyusun rencana perilaku/tindakan yang realistik sesuai dengan tuntutan lingkungan dan kebutuhan/keinginan, terinci, keterkelolaan, dan konsekuensinya.
5.    Komitmen : membangun motivasi dan kesanggupan klien, dengan cara pemberian harapan keberhasilan, wawasan manfaat, membangun motivasi dan dorongan internal dan kontrak tingkah laku.
6.    Pengakhiran tindakan : melakukan evaluasi dan konsekuensinya bilamana klien gagal melakukan tindakan/perilaku yang direncanakan, dengan cara mendorong klien untuk tidak menolak kegagalan, menyalahkan diri, kecewa, putusasa, dan memikirkan cara baru yang lebih realistis.

E.   CATATAN PENTING
·         Terapi realitas merupakan kelompok terapi kognitif-behavioral yang bersifat multikultural, menjelaskan “bagaimana manusia berfungsi secara individu dan sosial”
·         Terapi realitas mendasarkan pada realita bahwa setiap manusia memiliki kebutuhan yang dibawa sejak lahir dan termotivasi (secara internal) untuk memenuhi/memuaskannya. Oleh karena itu dapat digunakan oleh orang tua untuk anaknya, manajer untuk pegawainya, guru untuk muridnya, suami untuk istri, atau sebaliknya.
·         Formulasi WDEP dapat diterapkan secara fleksibel untuk konseling kecanduan, kesehatan mental, pendidikan, pekerjaan sosial, peradilan, dan tempat kerja melalui tuntunan motivasi internal “SAYA/AKU INGIN BERUBAH” dengan prinsip reality, right, and responsibility.
·         Untuk keberhasilan konseling realitas dituntut “konselor yang aktif” yaitu konselor yang kreatif mencari cara untuk menjadi bagian dalam dunia klien yang paling sulit ditembus dan terganggu sekalipun, dengan demikian klien akan membuka diri, mengevaluasi perilakunya, dan membuat perubahan dengan memilih perilaku yang efektif disini dan saat ini---here and now (realitas terkini).


F.   FORMAT PENGAMATAN KEGIATAN PRAKTEK (point-point yang ada merupakan penjabaran dari langkah-langkah konseling)
Tahap dan Kegiatan Konseling


NILAI


Komentar  Pengamat

1
2
3
4
5

A.   Pendahuluan
1.   Menyambut kehadiran klien
2.   Menciptakan hubungan baik
3.   Strukturing (tujuan, ajakan, harapan,jaminan keberhasilan)
4.   Mendengarkan keluhan klien
5.   Mempertegas tujuan konseling






B.   Strategi Konseling/Inti
6.   Mengeksplorasi keinginan, kebutuhan, dan persepsi klien
7.   Mendorong klien menjelaskan apa yg dipikirkan saat ini
8.   Mendorong klien menjelaskan pengaruh pikiran terhadap kondisi fisiologisnya
9.   Mendorong klien menjelaskan aoa yang telah dilakukan/ tindakan saat ini, bagaimana dan waktu/kapan melakukannya
10.      Mendorong klien menjelaskan  perasaan terkait dengan yg dilakukan/ tindakannya tsb.
11.      Minta klien menilai kerealistikan perilaku tsb.
12.      Mendorong klien merencanakan perilaku yang realistik, benar untuk mencapai keinginannya.
13.      Mendorong klien untuk komitmen mencapai keinginannya
14.      Mendorong klien  untuk tidak menolak kegagalan, menyalahkan diri, dan kecewa.
15.      Mendorong klien mengkaji hambatan, memikirkan cara baru mencapai keinginan, dan tidak putus asa.






C.   Penutup
16.       Membuat kesimpulan hasil konseling
17.      Mempertegas rencana tindakan yg harus dilakukan dan cara melakukannya
18.      Mengakhiri konseling dengan tetap memelihara suasana hubungan yang baik








^^Semoga Bermanfaat ya^^
Jangan lupa mem’vote atau memberi komentar atau masukan atau apapun lah agar kedepannya blog ini tambah atau bisa bermanfaat lagi.

2 komentar:

  1. Berbagi itu indah dan bikin bahagia

    Terkait tulisan mbak, akan lebih sip lagi jika ada contoh verbatim konseling dari teori tersebut

    BalasHapus
  2. terimakasih masukannya kakak...
    memang kemarin baru beberapa saja yang saya verbatimkan
    baru Verbatim R.E.T.
    Verbatim Client Centered
    dan Verbatim TEKNIK TRAIT AND FACTOR
    masih bnyk juga teori yg lain yg blm diverbatimkan...
    ^^

    BalasHapus