Senin, 30 April 2012

PERBEDAAN KONSELING TRAUMATIK DENGAN KONSELING BIASA


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Indonesia sering sekali dilanda bencana baik itu bencana alam yang disebabkan oleh kerusakan yang dilakukan oleh manusia, maupun oleh alam itu sendiri, seperti banjir, tanah longsor, kecelakaan lalulintas, gunung meletus, gempa tektonik, tsunami dan sebagainya. Orang-orang yang berada dan mengalami musibah tersebut tentu sedikit banyak mengalami trauma dengan bencana yang baru saja dialaminya. Oleh karena itu konseling traumatik membantu para klien yang mengalami trauma tersebut untuk mampu menghilangkan rasa traumanya agar tidak mengganggu perkembangan klien.
Dalam pengertiannya konseling merupakan salah satu bentuk hubungan yang bersifat membantu, makna bantuan itu sendiri, yaitu sebagai upaya untuk membantu orang lain agar mencapai kemandirian, mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya dan mampu menghadapi krisis-krisis yang dialami dalam kehidupannya. Tugas konselor adalah menciptakan kondisi-kondisi fasilitatif yang diperlukan bagi pertumbuhan dan perkembangan klien. Sementara itu, tujuan konseling mengadakan perubahan perilaku pada klien sehingga memungkinkan hidupnya lebih produktif dan menjadi normal kembali.
B.     Rumusan Masalah
1.             Apakah pengertian trauma?
2.             Apakah pengertian dari trauma konseling?
3.             Apakah penyebab dari trauma?
4.             Apakah perbedaan konseling traumatik dengan konseling biasa?
5.             Bagaimanakah cara menghilangkan trauma?
C.    Tujuan Penulisan
1)             Mengerti tentang trauma
2)             Mengerti tentang trauma konseling
3)             Mengetahui tentang penyebab dari trauma
4)             Mengetahui perbedaan konseling traumatik dengan konseling biasa
5)             Mengerti bagaimana cara menghilangkan trauma
D.    Manfaat
Konseling traumatik dilakukan untuk memulihkan kondisi klien yang mengalami kejadian yang menyebabkan klien merasa tidak nyaman atau merasa terancam. Melalui konseling traumatik, terapis atau konselor dan juga klien berharap agar klien dapat kembali hidup normal setelah menjalani konseling.
Koseling traumatik adalah upaya konselor untuk membantu klien yang mengalami trauma melalui proses hubungan pribadi sehingga klien dapat memahami diri sehubungan dengan masalah trauma yang dialaminya dan berusaha untuk mengatasinya sebaik mungkin.
Konseling ini berbeda dengan konseling biasa, yang terletak pada waktu, fokus, aktifitas, dan tujuan. Waktu yang dibutuhkan lebih pendek, kemudian lebih fokus pada satu masalah yaitu trauma. Dari segi aktifitas, konseling ini lebih sering melibatkan banyak orang dalam membantu klien dan yang lebih banyak aktif adalah konselor. Dilihat dari tujuan, konseling ini lebih menekankan pada pulihnya kembali klien seperti keadaan sebelum trauma dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Trauma
Trauma berasal dari kata Yunani “tramatos” yang berarti luka dari sumber luar. Tetapi kata trauma bisa juga luka sumber dalam yaitu luka emosi, rohani dan fisik yang disebabkan oleh keadaan yangmengancam diri kita. Menurut Kartini Kartono dan Dali Gulo dalam “KamusPsikologi” yang mengatakan bahwa trauma adalah luka berat ataupengalaman pahit yang menyebabkan organisme menderita kerusakanfisik maupun psikologis. Trauma secara psikologis merupakan pengalaman traumatikyang mengacu pada pengalaman mental yang luar biasa menyakitkanyang melampaui batas kemampuan seseorang untuk menanggungnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa trauma adalah sebuahperistiwa yang terjadi di luar individu yang mengalami yangmengancam kehidupan dan dapat menyebabkan organisme menderita kerusakan fisik maupun psikologis serta mengakibat kan rasa takut yang mendalam dan tidak berdaya.
            Trauma berarti peristiwa yang mengerikan yang sangat menakutkan. Di dalam salah satu diagnosis ilmu gangguan jiwa ada yang disebut dalam bahasa Inggrisnya PTSD yaitu Post Traumatic Stress Disorder artinya adalah gangguan stres pasca trauma, stres yang muncul dan berkelanjutan namun stres ini sebetulnya timbul sebagai akibat pengalaman yang mengerikan yang kita alami pada masa lampau.
Salah satu tanda penderita PTSD adalah sering diserang oleh mimpi buruk, malam hari terbangun dengan keringat dingin, ketakutan karena mengalami mimpi buruk yang sangat mengerikan. Dan mimpi buruk itu sangat unik, unik dalam pengertian mempunyai tema yang sama, jadi temanya adalah tema yang mengerikan.
B.     Trauma Konseling
Luka jiwa atau kadang disebut juga dengan trauma dapat terjadi pada semua insan, tak terkecuali diri kita. Saat mencapai dewasa maka kemampuan untuk mengatasi luka jiwa akan semakin lengkap dan komplit, sehingga luka jiwa yang terjadi dapat cepat sembuh atau bahkan sembuh sama sekali. Disadari atau tidak jiwa kita yang terbentuk sampai dewasa seperti sekarang ini dipengaruhi oleh luka-luka yang terjadi waktu kita masih kecil atau remaja. Masa yang sangat rawan dikarenakan seorang anak kecil belum dilengkapi dengan kemampuan secara sempurna untuk mengobati luka jiwa yang dialami.
Trauma adalah keadaan jiwa atau tingkah laku yang tidak normal sebagai akibat dari tekanan jiwa atau cedera jasmani. Selain itu trauma juga dapat diartikan sebagai luka yang ditimbulkan oleh faktor external. Jiwa yang timbul akibat peristiwa traumatik. Peristiwa traumatik bisa sekali dialami, bertahan dalam jangka lama, atau berulang-ulang dialami oleh penderita. Trauma psikologis bisa juga timbul akibat trauma fisik atau tanpa ada trauma fisik sekalipun. Penyebab trauma psikologis antara lain pelecehan seksual, kekerasan, ancaman, atau bencana. Namun tidak semua penyebab tersebut punya efek sama terhadap tiap orang. Ada orang yang bisa mengatasi masalah tersebut, namun ada pula yang tidak bisa mengatasi emosi dan ingatan pada peristiwa traumatik yang dialami.
C.    Penyebab Trauma
Penyebab dari trauma meliputi 2 faktor yaitu :
1.      Faktor internal (psikologis)
Bentuk gangguan dan kekacauan fungsi mental, atau kesehatan mental yang disebabkan oleh kegagalan bereaksinya mekanisme adaptasi dari fungsi-fungsi kejiwaan terhadap stimuli ekstern dan ketegangan-ketegangan, sehingga muncul gangguan fungsi atau gangguan struktur dari satu bagian, satu organ, atau sistem kejiwaan/mental. Merupakan totalitas kesatuan ekspresi proses kejiwaan/mental yang patologis terhadap stimuli sosial, dikombinasikan dengan faktor-faktor kausatif sekunder lainnya (patalogi = ilmu penyakit ).
Secara sederhana, Trauma dapat dirumuskan sebagai gangguan kejiwaan akibat ketidak mampuan seseorang mengatasi persoalan hidup yang harus dijalaninya, sehingga yang bersangkuan bertingkah secara kurang wajar.
Sebab-sebab timbulnya Trauma yaitu :
o   Kepribadian yang lemah atau kurang percaya diri sehingga menyebabkan yang bersangkutan merasa rendah diri, ( orang-orang melankolis)
o   Terjadinya konflik sosial – budaya akibat dari adanya norma yang berbeda antara dirinya dengan lingkungan masyarakat.
o   Pemahaman yang salah sehingga memberikan reaksi berlebihan terhadap kehidupan sosial (overacting) dan juga sebaliknya terlalu rendah diri (underacting).
Proses – proses yang diambil oleh sesorang dalam menghadapii kekalutan mental, sehingga mendorongnya kearah :
Positif, bila trauma (luka jiwa) yang dialami seseorang, akan disikapi untuk mengambil hikmah dari kesulitan yang dihadapinya, setelah mencari jalan keluar maksimal, tetapi belum mendapatkannya tetapi dikembalikan kepada sang pencipta yaitu Allah SWT, dan bertekad untuk tidak terulang kembali dilain waktu.
Negatif, bila trauma yang dialami tidak dapat dihilangkan, sehingga yang bersangkutan mengalami frustasi, yaitu tekanan batin akibat tidak tercapainya apa yang dicita-citakan.
Contohnya :
ü  Agresi, yaitu : Meluapkan rasa emosi yang tidak terkendali dan cenderung melakukan tindakan sadis yang dapat mambahayakan orang lain.
ü  Regresi, yaitu : Pola reaksi yang primitif atau kekanak-kanakan. (menjerit, menangis dll)
ü  Fiksasi, yaitu : Pembatasan pada satu pola yang sama (membisu, memukul dada sendiri dll)
ü  Proyeksi, yaitu : Melemparkan atau memproyeksikan sikap-sikap sendiri yang negatif pada orang lain.
ü  Indentifikasi, yaitu : Menyamakan diri dengan sesorang yang sukses dalam imajinasi, (kecantikan, dengan bintang film .dll)
ü  Narsisme, self love yaitu : Merasa dirinya lebih dari orang lain.
ü  Autisme yaitu : Menutup diri dari dunia luar dan tidak puas dengan pantasinya sendiri.
Penderita Trauma lebih banyak terdapat dalam lingkungan kota- kota besar yang banyak memberikan tantangan hidup yang berat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Anak-anak usia muda tidak berhasil dalam mencapai apa yang dikehendakinya.
Para korban bencana alam dan di tempat-tempat konflik, karena setres terhadap harta bendanya yang hilang.
2.      Faktor eksternal (fisik)
Faktor orang tua dalam bersosialisasi dalam kehidupan keluarga, terjadinya penganiyayaan yang menjadikan luka atau trauma fisik. Kejahatan atau perbuatan yang tidak bertanggung jawab yang mengakibat kan trauma Fisik dalam bentuk luka pada badan dan organ pada tubuh korban. Salah satu penanganan trauma yaitu dengan konseling trauma. Konseling trauma merupakan kebutuhan mendesak untuk membantu mengatasi beban psikologis yang diderita akibat bencana mapun hal yang linnya. Guncangan psikologis yang dahsyat akibat kehilangan orang-orang yang dicintai, kehilangan sanak keluarga, dan kehilangan pekerjaan, bisa memengaruhi kestabilan emosi para korban. Mereka yang tidak kuat mentalnya dan tidak tabah dalam menghadapi petaka, bisa mengalami guncangan jiwa yang dahsyat dan berujung pada stres berat yang sewaktu-waktu bisa menjadikan mereka lupa ingatan atau gila.
Konseling trauma dapat membantu menata kestabilan emosinya sehingga mereka bisa menerima kenyataan hidup sebagaimana adanya meskipun dalam kondisi yang sulit. Konseling trauma juga sangat bermanfaat untuk membantu penderita trauma untuk lebih mampu mengelola emosinya secara benar dan berpikir realistik. Dengan modal emosi yang stabil dan keterampilan mengelola kehidupan emosionalnya, maka konseling trauma dapat dilanjutkan untuk membantu para korban untuk menemukan kembali rasa percaya diri yang sempat terkoyak tak berdaya dirampas bencana. Tidak mudah bagi setiap orang untuk bisa menerima kenyataan kehilangan istri, anak, atau pun suami. Bahkan ketika perasaan kehilangan yang amat dalam itu muncul, seseorang akan merasa hidupnya tidak berarti lagi. Keadaan inilah yang memicu munculnya kondisi putus asa (hopeless) dan tak berarti (meaningless) (Fromm, 1999). Hidup tanpa arti dan tanpa harapan akan sulit. Membangun rasa percaya diri ditopang kestabilan emosional menjadi awal untuk berkembangnya kemampuan berpikir rasional dan realistik. Kestabilan emosional dan kemampuan berpikir rasional dan realistik merupakan dua tonggak utama yang sangat menentukan psikologi seseorang.
Semangat hidup menjadi modal utama bagi para korban untuk sanggup bertahan dan menatap masa depan dari balik kehancuran hidup dan kesendirian. Dengan semangat hidup yang kuat, para penderita akan terbebas dari belenggu keputusasaan dan ketidakberdayaan. Konseling trauma juga sangat bermanfaat dalam membantu para korban untuk mampu memecahkan masalah secara kreatif melalui hubungan timbal balik dan dukungan lingkungan.
D.    Perbedaan Konseling Traumatik dengan Konseling Biasa
      Koseling traumatik adalah upaya konselor untuk membantu klien yang mengalami trauma melalui proses hubungan pribadi sehingga klien dapat memahami diri sehubungan dengan masalah trauma yang dialaminya dan berusaha untuk mengatasinya sebaik mungkin. Konseling traumatik sangat berbeda dengan konseling biasa dilakukan oleh konselor, perbedaan ini terletak pada waktu,fokus, aktifitas, dan tujuan.Perbedaan itu adalah :
1.      Dilihat dari segi waktu : konseling traumatik sangat butuh waktu yang panjang dari pada konseling biasa
2.      kemudian dari segi fokus : konseling traumatik lebih memerhatikan pada satu masalah, yaitu trauma yang dirasakan sekarang. Adapun konseling biasa, pada umumnya suka menghubungkan satu masalah klien dengan masalah lainnya, seperti latar belakang klien, proses ketidak-sadaran klien, masalah komunikasi klien, transferensi dan conter transferensi antara klien dan konselor, kritis identitas dan seksualitas klien, keterhimpitan pribadi klien dan konflik nilai yang terjadi pada klien.
3.      Dilihat dari segi aktifitas : konseling traumatik lebih banyak melibatkan banyaknya orang dalam membantu klien dan yang paling banyak aktif adalah konselor, konselor berusaha mengarahkan, mensugesti, memberi saran, mencari dukungan dari keluarga dan teman klien, menghubungi orang yang lebih ahli untuk referal, menghubungkan klien dengan ahli lain untuk referal, melibatkan orang atau agen lain yang kompeten secara legal untuk membantu klien, dan mengusulkan berbagai perubahan lingkungan untuk kesembuhan klien.
4.      Dilihat dari segi tujuan, konseling traumatik lebih menekankan pada pulihnya kembali klien pada keadaan sebelum trauma dan mampu menyesuaikan diri dengan keadaan diri dengan keadaan lingkungan yang baru. Secara lebih spesifik, kottman (1995) Menyebutkan, bahwa tujuan konseling traumatik adalah :
Ø Berpikir realistis, bahwa trauma adalah bagian dari kehidupan
Ø Memperoleh pemahaman tentang peristiwa dan situasi yang menimbulkan trauma
Ø Memahami dan menerima perasaan yang berhubungan dengan trauma, serta
Ø Belajar ketrampilan baru mengatasi trauma.
Proses konseling traumatik terlaksana karena hubungan konseling berjalan dengan baik, proses konseling traumatik adalah peristiwa yang tengah berlangsung dan memberi makna bagi klien yang mengalami trauma dan memberi makna pula bagi konselor yang membantu mangatasi trauma kliennya tersebut.
E.     Cara Menghilangkan Trauma
1)      Mengenali dulu apa yang menjadi penyebab gangguan itu, sebab tidak sama dalam setiap kasus.
2)      Kembali lagi pada peristiwa saat itu, dan mengeluarkan emosi yang seharusnya dia keluarkan saat itu. Tentunya dengan bantuan seorang ahli terapi dia mengunjungi kembali saat itu dan mengeluarkan perasaannya yaitu perasaan takut, marah, diekspresikan semua.
3)      Setelah itu baru masuk ke yang disebut di dalam ilmu terapi ke arah yang bersifat kognitif. Yaitu penyembuhan kognitif artinya dia akan diajar atau mulai belajar melihat hidup ini atau situasi ini dengan kaca mata yang berbeda.
Orang yang mengalami gangguan stres pasca trauma ini biasanya menempatkan dirinya sebagai orang yang tak berdaya, ini yang perlu disampaikan kepada mereka "TIDAK!" engkau sekarang berdaya, engkau tidaklah setidak berdaya pada waktu engkau masih kecil. Jadi harus dilawan dan diberikan prespektif yang lebih luas.
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
trauma adalah sebuah peristiwa yang terjadi di luar individu yang mengalami yang mengancam kehidupan dan dapat menyebabkan organisme menderita kerusakan fisik maupun psikologis serta mengakibat kan rasa takut yang mendalam dan tidak berdaya.
Penyebab dari trauma meliputi 2 faktor yaitu :
1.                   Faktor internal (psikologis)
2.                   Faktor eksternal (fisik)
Koseling traumatik adalah upaya konselor untuk membantu klien yang mengalami trauma melalui proses hubungan pribadi sehingga klien dapat memahami diri sehubungan dengan masalah trauma yang dialaminya dan berusaha untuk mengatasinya sebaik mungkin. Konseling traumatik sangat berbeda dengan konseling biasa dilakukan oleh konselor, perbedaan ini terletak pada waktu,fokus, aktifitas, dan tujuan.
Cara Menghilangkan Trauma
a.         Mengenali dulu apa yang menjadi penyebab gangguan itu, sebab tidak sama dalam setiap kasus.
b.         Kembali lagi pada peristiwa saat itu, dan mengeluarkan emosi yang seharusnya dia keluarkan saat itu. Tentunya dengan bantuan seorang ahli terapi dia mengunjungi kembali saat itu dan mengeluarkan perasaannya yaitu perasaan takut, marah, diekspresikan semua.
c.         Setelah itu baru masuk ke yang disebut di dalam ilmu terapi ke arah yang bersifat kognitif. Yaitu penyembuhan kognitif artinya dia akan diajar atau mulai belajar melihat hidup ini atau situasi ini dengan kaca mata yang berbeda.

DAFTAR RUJUKAN

Gangguan Stress Pasca Trauma. Pdt. Dr. Paul Gunadi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar